Awal Mula Depot Video

Kampung Halaman membangun Depot Video di tahun 2006, tahun yang sama lahirnya yayasan ini. Kampung Halaman menggunakan video komunitas sebagai alat kerja dan jumlah pasti akan bertambah setiap tahunnya. Kampung Halaman tidak ingin video-video yang dihasilkan oleh suatu komunitas berhenti bermanfaat, sehingga pengetahuan didalamnya tidak diketahui oleh orang banyak (komunitas lain). Menurut kami hal yang terpenting adalah distribusi pengetahuan.

Atas dasar pemikiran tersebut, Kampung Halaman kemudian merasa perlu belajar dari organisasi/komunitas lain yang sudah dulu menggunakan audio visual sebagai alat kerja mereka. Kami menghubungi Insist, Etnoreflika, Desantara, Wisnu, PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) dan lain sebagainya. Kami menanyakan perihal distribusi yang mereka lakukan, pengarsipan dan termasuk tantangan yang dihadapi. Tidak semua kawan tersebut memiliki perhatian khusus untuk mendata dan mendistribusikan video-video tersebut. Sibuknya mereka, termasuk para fasilitator lapangan sehingga tidak sempat membuat data base video. Hal serupa juga terjadi di komunitas pembuatnya, anggota komunitas tersebut berganti-ganti sehingga entah siapa yang membawa file video tersebut. Kami melihat kesadaran kita dalam hal pengarsipan memang belum kuat.

Ada juga tantangan lain seperti yang dialami oleh masyarakat adat Haruku di Kepulauan Lease, Maluku Tengah. Dapat dikatakan, mereka adalah komunitas yang paling dulu menggunakan audio visual sebagai alat belajar di Indonesia. Di tahun 1993, mereka mendokumentasikan tradisi adat Buka Sasi Lompa, sistem penangkapan ikan yang terlembaga yang sudah mereka terapkan di Haruku sejak tahun 1600-an.

Dokumentasi milik warga yang difasilitasi oleh organisasi bernama Nen Mas Il tersebut tersimpan rapi di sebuah studio kecil di tepi pantai. Seiring dengan waktu, rekaman berbentuk pita rekaman S-VHS yang merupakan teknologi mutakhir jaman itu (1993) jumlahnya semakin banyak. Mereka menyimpannya di dalam lemari tertutup. Suatu hari salah satu anggota tim dokumentasi terkejut karena pita rekaman tersebut rusak ‘dimakan’ garam yang dibawa oleh angin laut. Dokumentasi yang berhasil diselamatkan adalah video berjudul “Buka Sasi Lompa”.

Perlindungan Video Komunitas
Kondisi dan tantangan yang disebutkan teman-teman organisasi dan komunitas membuka mata kami lebar-lebar pada pentingnya database video komunitas agar pengetahuan yang mereka dokumentasikan tidak putus di tengah jalan.

Kampung Halaman kemudian bergerilya dengan mendatangi, menelpon mereka yang memiliki video komunitas. Kami meminta izin pembuat video untuk mendistribusikan karya mereka ke publik yang lebih luas. Muncul pertanyaan kritis, bagaimana dengan perlindungan karya mereka? Bukan tidak mungkin karya mereka nanti diedit oleh orang lain (entah dengan maksud apa), atau diperjualbelikan?

Kami kemudian mempelajari Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), membuat diskusi publik tentang itu. Kami memutuskan untuk menggunakan creative commons sebagai lisensi yang paling tepat karena sama-sama bernafaskan distribusi untuk pendidikan yang menawarkan beragam jenis lisensi yang dapat dipilih sesuai kebutuhan, serta mudah untuk dilakukan.

Komunitas adalah pemilik karya, hak kami adalah mendistribusikannya. Sejak saat itu, sekitar tahun 2008, kami menyebarluaskan lisensi ini ke banyak rekan, terutama komunitas agar mereka dapat melindungi karya mereka dan mendistribusikannya secara luas tanpa khawatir.

Perlahan tapi pasti jumlah koleksi bertambah, kami membentuk tim. Mereka adalah Azzah Nilawati, Saskia Noor Anggraini, Atina Rizkiana, Agung Wahyu Lelono, Muhammad Arya, Mamat, Dimas. Tim ini lalu berbagi tugas. Ada yang mencari video, ada yang menonton dan membuat kategorisasi, ada yang membuat sistem database digital, ada yang membuat desain (logo, bentuk booth DEPOT VIDEO) serta ada yang mencari strategi publikasi.

Desember 2010, untuk pertama kalinya Kampung Halaman persembahkan DEPOT VIDEO (berisi 150 video komunitas) ke publik, bekerjasama dengan Festival Film Dokumenter. Setelah itu kami mengajak berbagai rekan Universitas untuk bekerjasama memperluas manfaat DEPOT VIDEO. Ada 5 Universitas yang bersedia, Universitas Gajah Mada, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Udayana Bali, Universitas Muhammadiyah Malang dan Univesitas Indonesia. Kami juga mendistribusikannya ke banyak komunitas. Caranya dengan membuat pemutaran dan diskusi tematik keliling dengan menggunakan koleksi Depot Video.

Evaluasi Depot Video

Ima Puspita Sari dan Deden Bangkit adalah dua orang tim kecil Depot Video yang bekerjasama untuk teknis, menjaga content dan memastikan distribusi komunitas berjalan. Januari 2015, tim diperkuat satu orang asisten Depot Video Citta Tresnati untuk memastikan video memenuhi standar kelayakan dan kelengkapan video (format video dan sinopsis) dan melakukan pendataan seluruh database video. Selain itu kami juga dibantu beberapa relawan untuk membuat subtitle.

Mei 2015, kami melakukan tiga (3) diskusi kelompok terarah untuk membahas Depot Video. Kami mengundang bersama teman-teman yang menggunakan Depot Video, ahli komunikasi dan akademisi serta teman-teman yang sama sekali belum pernah menggunakan Depot Video. Peserta FGD sepakat video/konten yang ada didalam Depot Video penting untuk sebagai alternative tontonan dan pengetahuan bagi komunitas/individu. Peserta diskusi ini kemudian menyarankan Depot video lebih dipopulerkan dan diperbaiki dari segi design, sistem, aksesibilitas dan publikasi.

Depot Video 2016
Awal tahun ini, Kampung Halaman mulai menyusun strategi setelah evaluasi program. Kami memperbaiki situs Depot Video untuk tujuan aksesibilitas yang lebih baik. Depot Video dipakai sebagai sarana belajar dan menyuarakan opini remaja ke khalayak yang lebih luas. Tampilan baru situs Depot Video dirancang untuk menjadi lebih sederhana, mudah digunakan dan mudah diingat.

Situs Depot Video memiliki 3 halaman utama yaitu halaman rumah, latar belakang dan arsip. Di halaman rumah, ada penjelasan tentang Depot Video dan informasi statistik termasuk jumlah video yang tersedia, jumlah masyarakat yang terlibat dan kabupaten asal video. Di halaman arsip, pengguna dapat menemukan video yang mereka butuhkan.  Pedoman sederhana bagi pengguna juga tersedia di situs Depot Video. Pengguna dapat memilih video menggunakan 3 filter yang tersedia; masalah, lokasi dan tahun.

Depot Video kini sudah berisi 547 video komunitas. Jumlah ini akan terus bertambah. Sebagian adalah hasil produksi komunitas remaja dan anak muda yang kami fasilitasi. Menjadi penting bagi kami untuk mempublikasikan depot video agar suara remaja tentang banyak hal bisa diketahui dan bermanfaat untuk masyarakat luas. Kami juga tetap bertanya tentang kabar rekan lain yang memproduksi dan sampai mana manfaat video komunitas ini untuk publik.

Proses memaknai Depot Video terus berkembang seiring pengalaman kami mengerjakannya. Ada makna lain ketika menonton video yang bertahun-tahun sebelumnya sudah kami tonton. Seperti halnya membaca ulang suatu karya, ada wawasan baru dalam memandang sesuatu yang kita dapatkan. Kami juga mendapatkan perspektif lain dari teman-teman yang menggunakan Depot Video baik komunitas, sanggar belajar, sekolah dan teman-teman akademisi. Kami saling belajar.

 

Catatan oleh Cicilia Maharani dan Rachma Safitri Yogasari